09 Desember 2019

Popular News

img

Impor Menggunakan Transportasi Multimoda Dibahas Pada Audiensi Dengan DHL Global Forwarding Indonesia

FASILITAS


Berkembangnya pola dan volume pengiriman barang yang masuk dan keluar di Indonesia, dan dibarengi dengan masih tingginya biaya logistik via udara dan laut, membuat para pelaku usaha importir dan eksportir mencari opsi baru. Melihat peluang tersebut, DHL Global Forwarding memiliki layanan DHL Asia Connect+, yaitu layanan logistik menggunakan transportasi darat dengan biaya relatif lebih rendah, yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Mengingat letak geografis Indonesia dengan Negara ASEAN lain dipisahkan oleh lautan, proses pengiriman layanan Asia Connect+ menggunakan transportasi multimoda, dengan mekanisme pengiriman via darat yang kemudian dilanjutkan via kargo laut ataupun udara. 


Berkaitan dengan hal tersebut, bertempat di Ruang Rapat Gedung B, Bea Cukai Soekarno-Hatta mengadakan audiensi dengan DHL Global Forwarding untuk membahas prosedur impor barang dengan transportasi multimoda, pada hari Kamis tanggal 22 November 2019. 

Audiensi dipimpin oleh Achmad Hidayat selaku Kepala Seksi Layanan Informasi, dan didampingi oleh Arief Andrian selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai I, Abu Bakar selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai III, dan Yudi Liusmar selaku Kepala Seksi Administrasi Manifest Bidang PFPC II, serta staf pelaksana dari bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) dan seksi Layanan Informasi.

Pertemuan diawali dengan pembawaan materi oleh pihak DHL Global Forwarding Indonesia yang diwakili oleh Yenna Waty selaku Head of Region North and West Indonesia, yang menjelaskan bahwa layanan Asia Connect+ secara resmi telah diluncurkan pada 14 Oktober 2019 lalu, namun sejauh ini baru melayani kegiatan ekspor barang dari Indonesia ke Negara ASEAN lainnya. Untuk kegiatan impor barang belum dilakukan, dikarenakan pengiriman transportasi multimoda melintasi banyak Negara, yang masing-masing memiliki regulasi kepabeanan yang berbeda-beda.

Abu Bakar menyampaikan bahwa terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam proses impor barang menggunakan transportasi multimoda, yaitu Freight Reference pada dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan persyaratan dokumen Free Trade Agreement (FTA).

Yudi Liusmar pun menambahkan, bahwa dalam dokumen pemberitahuan pabean berupa Inward Manifest, harus tertera secara jelas antara pihak Shipper dan Consignee serta lokasi asal barang serta tujuan pengirimannya. Ia juga mengatakan bahwa dokumen pelengkap lainnya seperti Invoice juga diperlukan.

Reza Rotikan selaku General Manajer Customs Clearance menjelaskan skema proses ilustrasi pengiriman barang ke Indonesia dengan transportasi multimoda, mulanya akan diangkut menggunakan transportasi darat dengan ketentuan tiap melintasi satu negara hanya menggunakan satu kendaraan. Setelah barang tiba di Hub yang disediakan DHL Global Forwarding di Singapura, barang kemudian diangkut menggunakan transportasi udara atau laut.

Terkait dokumen persyaratan dokumen FTA untuk memperoleh tarif preferensi, serta dokumen Surat Keterangan Asal (SKA) atau yang lebih dikenal dengan Rules of Origin (ROO), Arief Andrian menyarankan agar pihak DHL menggunakan Peraturan Menteri Keuangan no PMK 229/PMK.04/2017 tentang Tata Cara Pengenaan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Berdasarkan Perjanjian atau Kesepakatan Internasional, sebagai acuan dalam pelaksanaan importasi.

Achmad Hidayat, di akhir pertemuan, menyimpulkan bahwa secara konseptual proses pengiriman barang impor dengan menggunakan transportasi multimoda bisa dilaksanakan, namun masih perlu didiskusikan lebih lanjut dengan Kantor Pusat agar pada saat pelaksanaan importasi tidak terdapat hambatan yang dapat merugikan.
.
#beacukaimakinbaik #beacukaisoekarnohatta #bcsoetta #bcsh #audiensi #impormultimoda #dhlglobalforwarding