Sedang Memuat...

Antisipasi Kelangkaan Gas di Perbatasan, Bea Cukai Gandeng Pertamina Lakukan Operasi Pasar

Nanga Badau (01/02/2018) – Membangun Indonesia dari pinggiran, yaitu dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, telah digariskan oleh Presiden Joko Widodo dalam nawa citanya. Semangat ini juga yang mendorong Bea Cukai untuk menjamin kesejahteraan rakyat yang hidup di daerah perbatasan, khususnya dalam mengantisipasi kelangkaan gas di perbatasan.

Sejak dimulainya penertiban impor oleh pelintas batas pada pertengahan Januari 2018, banyak laporan dari masyarakat bahwa liquefied petroleum gas (LPG) mulai langka di pasaran, karena memang selama ini kebutuhan gas LPG di sekitar perbatasan banyak disuplai dari Malaysia, sedangkan pasokan dari Pertamina dirasakan belum bisa mencukupi kebutuhan.

“Pemasukan gas LPG dari Malaysia selama ini memang dilakukan melalui pos lintas batas negara (PLBN) oleh pelintas batas dengan volume rata-rata 67 tabung gas 14kg netto setiap harinya. Namun sejak kita tertibkan KILB (Kartu Identitas Lintas Batas), yang mana pemilik KILB harus hadir di PLBN dengan menunjukkan KILB beserta barang belanjaannya, memang terjadi penurunan volume pemasukan gas LPG dari Malaysia, bahkan pada beberapa hari pertama sejak penertiban KILB, tidak ada satu pun tabung gas LPG yang dibawa dari Malaysia,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Nanga Badau, I Putu Alit Ari Sudarsono.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya tidak tinggal diam, melainkan segera berkoordinasi dengan Kantor Wilayah, bahkan Kantor Pusat Bea dan Cukai. Dan hal tersebut membuahkan hasil, pada hari ini di Kantor Kecamatan Badau dan Terminal Bus Badau dilaksanakan operasi pasar dan penambahan stok gas LPG dari Pertamina.

Aditya Herdy, Sales Executive Elpiji Pertamina Rayon 6, yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan, pihaknya akan menambah jumlah agen gas Elpiji baik di Putussibau maupun di kecamatan Badau untuk menjamin ketersediaan pasokan gas Elpiji. Sementara salah seorang warga bernama Basri berharap agar Pertamina dapat menjaga stok gas Elpiji di Badau sehingga warga tidak kebingungan mencari gas LPG.

Dalam kegiatan tersebut, gas Elpiji Pertamina dijual dengan harga Rp28.000,- untuk ukuran 3 kg (tidak termasuk harga tabung). Pertamina juga menyediakan varian gas Elpiji ukuran 5,5kg dengan harga Rp90.000,- dan untuk gas Elpiji ukuran 12kg seharga Rp190.000,-.

“Momen seperti ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi produk dalam negeri untuk dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tentunya Pertamina tidak akan membuang kesempatan ini, karena ini adalah peluang terbaik untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Putu Alit.

Namun demikian pihaknya tidak melarang apabila ada warga perbatasan yang akan membeli gas LPG dari Malaysia, sepanjang memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, yaitu membawa KILB dan tidak melampaui batas pembebasan Bea Masuk sebesar RM600/orang/bulan. “Karena memang warga di perbatasan yang sudah mempunyai KILB berhak atas pembebasan Bea Masuk dan Pajak atas barang pribadi yang dibawanya dari negara tetangga sampai batas nilai tersebut,” ujarnya.

Perlu diketahui juga bahwa penyalahgunaan fasilitas yang khusus diberikan kepada warga perbatasan tersebut dapat memberi dampak negatif bagi industri dalam negeri apabila barang yang mendapatkan fasilitas KILB keluar dari batas wilayah yang telah ditetapkan, karena barang-barang dari negara tetangga yang diimpor tanpa membayar bea masuk dan pajak tentunya dapat di jual di pasaran dengan harga yang lebih rendah dibandingkan produk dalam negeri, sehingga produk dalam negeri kesulitan untuk bersaing.

“Di sisi lain, produk impor yang dimasukkan dengan pembebasan dari ketentuan tata niaga yang diatur oleh instansi yang berwenang, juga dapat membahayakan masyarakat itu sendiri. Sebut saja misalnya impor produk makanan dan minuman yang belum mendapat izin dari Badan POM, hal ini dapat membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya, ini yang harus kita pahami,” pungkasnya.

 

- KPPBC Tipe Madya pabean C Nanga Badau

RELATED POSTS

)